Bakar Berjamaah

11 Oktober adalah hari bakar berjamaah, hari dimana Jatiwangi menandai darinya untuk menegaskan salah satu ikrar Jatiwangi : mengolah tanah liat dengan penuh martabat. Dalam bakar berjamaah ini ALAT MUSIK dan olahan tanah liat lainnya yang dibuat oleh warga sekolah warga keluarga warga aparatur desa warga pemuda/i warga pegawai sipil akan dibakar bersama tanggal 11 Oktober ini. Dan di hari bakar berjamaah ini sekaligus merupakan rangkaian dari kesiapan Rampak Genteng dan Festival Musik Keramik di 11 November nanti dan sekaligus perlahan sedang melakoni keinginan menjadikan Jatiwangi sebagai KOTA TERRAKOTA.

Bakar berjamaah ini merupakan ritual tiga tahun sekali dalam upaya merancang ketahanan tanah lewat diversifikasi produk dari tanah Jatiwangi. Dalam Bakar Berjamaah tahun ini kami merancang sebuah tungku portable yang diharapkan dapat menjadi teknologi alternatif bagi warga Jatiwangi dalam mengolah tanahnya. Benda-benda dari tanah yang telah dibakar dalam Bakar Berjamaah ini kemudian akan dipasang menjadi sebuah monumen terrakota di titik nol Jatiwangi, sebagai Landmark yang akan menguatkan identitas Jatiwangi sebagai Kota Terrakota.

Adapun pengajian ini akan dipandu oleh beberapa Kyai dan Pesantren yang aktif berkiprah di Jatiwangi dan Majalengka, diantaranya:
+ Kyai Haji Suherman (Ponpes Al-Haris, Sukaraja Kulon)
+ Kyai Abdul Syakur (Ponpes Almasudiyatussholihah)
+ Habib Ali RIdho Al Kaff (Duta Hijrah, Kadipaten)
+ Kyai Maman Komarudin (Camat Jatiwangi)

Pengajian ini akan dibagi ke dalam dua sesi, dimana sesi pertama dibuka pada pukul 4 sores dengan Sadatana Bersholawat; lantunan Sholawat diiringi musik dari Instrumen tanah liat, diikuti oleh Khutbah Bakar Berjamaah oleh Kyai Maman Komarudin yang juga menjabat sebagai Camat Jatiwangi. Setelah itu barulah kita memasuki prosesi penyalaan Tungku Bakar Berjamaah oleh beberapa perwakilan Tokoh Masyarakat, untuk memulai proses pembakaran benda-benda keramik yang telah dibuat oleh warga Jatiwangi sambil diikuti oleh pembacaan Wasiat Tahun Tanah, hingga ditutup oleh Doa Bersama.

Pengajian pada sesi kedua yang dimulai setelah magrib ini wabilkhusus mengajak para warga untuk sama-sama mendoakan (hadorohan) para pendahulu dari Genteng Jatiwangi, yang telah berjasa membangun kebudayaan genteng di Jatiwangi, diantaranya:

1. H. Umar bin Ma’aruf : Sebagai orang yang memulai Jebor pertama kali
2. Bapak Barmawi : Ahli genteng yang didatangkan dari Babakan Jawa
3. Bapak Narsa : Pelopor genteng press
4. Haji Aspin (PG. Abadi) : Jebor dengan akselerasi teknologi tercepat
5. Padil : Pemilik Jebor Pertama yang mahir membuat branding
6. H. Abdurahman : Menjamin pasar genteng untuk wilayah Baturuyuk
7. H. Amin Hatt : Anggota Dewan yang berjuang bersama KOPRIGI
8. Pak Gemboy (PERKAKE) : Membuka distribusi genteng ke luar Jawa tahun 60’an
9. Pak Abu : Pelopor Hawu Jebor di Baturuyuk
10. Dan nama-nama lainya

Hadorohan ini akan dipimpin oleh Kyai Haji Abdul Syakur dari Ponpes Almasudiyatussholihah yang dilanjutkan oleh Dzikir Akbar menggunakan Tasbih dari Tanah yang diambil dari 8 Desa, dipimpin oleh Kyai Haji Suherman selaku pimpinan Pondok Pesantren Al-Haris. Sesi ini akan ditutup oleh Sholawat serta Tausiah dari Habib Ali Ridho Al Kaff dari Duta Hijrah.

Semoga menjadi kebaikan. Dan selamat menjalani Tahun Tanah.