Forum 27an Juli 2018

Reuni Akbar Rampak Genteng; Mengulang Ribuan Ingatan

Jebor Hall Jatiwangi Art Factory
27 Juli 2018

reuni4

Apa yang paling indah dari kebersamaan? Mungkin ingatan di waktu yang lalu, yang bisa dikenang bersama-sama. Orang-orang yang datang sore itu asal dan latar belakangnya berbeda-beda. Anak-anak yang berseragam sekolah, guru-guru, pejabat-pejabat desa berbaju batik, pemuda-pemudi, ibu-ibu PKK dan bapak-bapak pengrajin genteng hadir di gedung baru. Mereka dipertemukan dalam ingatan yang sama: ingatan rampak genteng yang mereka ikuti bertahun-tahun lalu.

Ada panggung dan ada kursi-kursi. Layar besar dan proyektor. Makanan ringan dan jahe hangat tersedia di meja. Orang-orang juga duduk lesehan. Mengobrol satu sama lain, saling sapa. Mungkin saja mereka baru bertemu di sore itu setelah tiga atau enam tahun yang lalu, saat sama-sama menjadi penyemarak rampak genteng yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Yang pertama tahun 2012, lalu yang kedua di 2015. Ada yang mengikuti keduanya, ada yang hanya salah satunya.

reuni11

Si Doohan, anak laki-lakinya Kadus Ila yang berseragam putih-merah di rampak genteng yang pertama, dan ikut serta lagi di rampak genteng yang kedua sudah dengan seragam putih-birunya. Masing-masing orang punya pengalaman berbeda yang menarik untuk dikisahkan, yang sebagiannya terekam dalam dokumenter yang diputarkan sore itu. Filem berdurasi lima belas menit itu merangkum kedua festival yang lalu, ditambah kesan-kesan orang-orang yang pernah terlibat, membuat penonton lalu berbisik-bisik dan cekikikan ketika melihat dirinya atau temannya tersorot di layar. Semua sepakat jika waktu tak terasa cepat sekali berganti.

Kini sudah menjelang festival yang ketiga kalinya. Reuni akbar ini menjadi awal dari persiapan, karena bersilaturahmi sangatlah penting adanya. Arief Yudi pun lalu mengajak orang-orang yang hadir untuk menyampaikan pendapat dan ingatannya. Semua yang maju mengutarakan pujian dan harapan. Sepuluh ribu orang penyemarak secara optimis terucap sebagai tujuan rampak genteng tahun ini, pada 11 November 2018, yang ditutup dengan alunan suling tanah yang ditiup bersama dengan bapak camat Jatiwangi sebagai tanda kesiapan dan dukungannya.

reuni7

Teks oleh Kadus Ila:
Seribu sembilan ratus lima. Satu abad lebih kita mengolah tanah, tak kurang dari satu juta genteng diproduksi setiap hari, Nusantara kita naungi. Dari tanah yang sama kita bisa tetap memanen padi. Hingga kini kita tegak menjadi Jatiwangi sejati. Jati diri untuk terus berkreasi.

Teks oleh Tedi en:
Tiga bulan kita menemukan bunyi yang sama. Ada genteng di tas sekolah, di keranjang-keranjang sepedah, di kolong meja belajar. Anak-anak berseragam, ibu-ibu selepas dapur, bapak bapak menjaga menjadi ada, pemuda-pemudi aktif di garda depan, semua mengayun stik di terik matahari. Dalam suara tanah yang sama, rasa lelah menjadi gembira, menjadi ingatan, menjadi sejarah.

Teks oleh Beben:
Jatiwangi terus berubah, dimana berbeda pandangan bahkan pertentangan dan pengkerdilan menjadi terasa dekat. Mari menjaga kenangan bersama yang masih kita miliki. Jatiwangi bisa berubah jadi apapun jika kita saling mengenal dan bertahan.